Gerakan Mengajar Desa (GMD) adalah gerakan sosial yang berfokus pada peningkatan pendidikan dan karakter anak-anak di pedesaan. Gerakan ini pertama kali terbentuk di Jawa Barat. Diskusi antara Penggerak Perubahan Indonesia dan Dunia 2050 dengan GMD Aceh ini dihadiri oleh beberapa anggota, diantaranya; Ahmad Lutfan Milzam, Nurul Nisa Agnisia, Roji Rahmatullah, dan Sofia Safira. GMD bertujuan untuk menyentuh anak-anak SD sampai SMP di pedesaan dengan menerapkan pembentukan karakter anak, lingkungan, dan warga desa.

Tujuan GMD adalah untuk meningkatkan kesadaran pendidikan melalui guru dan keluarga di pedesaan. Hal ini dikarenakan orang tua di pedesaan hanya tamatan SMP/SMA, sehingga terdapat kemungkinan anak-anaknya hanya berpendidikan sedemikian, padahal memiliki potensi untuk melanjutkan pendidikan. Oleh karena itu, GMD berminat untuk menumbuhkan kesadaran pendidikan melalui guru dan keluarga.

Namun, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan pendidikan di pedesaan, seperti mindset, pola parenting, lingkungan di desa (masyarakat, sanitasi), dan gizi. Selain itu, sikap toleransi yang masih kurang juga menjadi salah satu masalah sosial yang dihadapi di pedesaan. GMD mencoba untuk mengatasi hal ini dengan memasukkan nilai-nilai toleransi dalam kurikulum agar dapat mengurangi diskriminasi terhadap perbedaan.

Kombinasi teknologi dengan pendidikan juga dianggap sebagai solusi dari kurangnya sumberdaya guru di pedesaan. GMD memanfaatkan beberapa platform belajar online seperti Ruangguru, Quipper, ruang guru, dan lainnya agar anak-anak dapat mengakses pengetahuan lebih banyak lagi. Dengan cara ini, salah satu hasilnya adalah adanya anak-anak yang berhasil menjuarai olimpiade provinsi.

Meskipun ada upaya yang dilakukan oleh GMD, terdapat kendala dalam hal akses jaringan internet yang masih kurang di beberapa desa. Fasilitas pembelajaran sudah lengkap, namun kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam menggunakan alat bantu presentasi masih belum memadai. Oleh karena itu, GMD meminta bantuan dari mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) untuk memaksimalkan potensi ekonomi di desa tersebut dengan cara mempromosikan produk warga seperti payet baju.

Selain pendidikan, GMD juga berfokus pada lingkungan dan politik di pedesaan. Anak-anak di pedesaan diajarkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan melakukan pemilahan sampah. GMD juga berusaha meningkatkan potensi ekonomi di desa dengan memaksimalkan potensi yang ada, seperti promosi produk warga. Sementara itu, politik juga menjadi faktor penting dalam perkembangan GMD. Aceh memiliki dana Otonomi Khusus, namun masih menjadi provinsi termiskin di Sumatera

Faktor Ekonomi. Di sisi ekonomi, Gerakan Mengajar Desa melakukan pengabdian non-formal dengan bekerja sama dengan mahasiswa PWK. Selain itu, mereka juga berusaha memaksimalkan potensi ekonomi di desa tersebut dengan cara mempromosikan produk warga, seperti payet baju. Namun, disisi lain mereka mengalami kendala ketika hampir bekerjasama dengan PWK untuk merancang mesin, namun terhalang oleh waktu. GMD juga mencoba memperhatikan faktor lingkungan di desa. Salah satu langkah yang diambil adalah mengajak anak-anak untuk bersih-bersih lingkungan sekitar dan melakukan pemilahan sampah serta diajarkan memanfaatkan sampah sebagai bahan kreativitas seperti membuat celengan dan hiasan. Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan memperbaiki kondisi lingkungan di sekitar mereka.

Sudah hampir dua dekade Aceh mendapatkan pendanaan Otonomi Khusus, tapi saat ini masih menjadi provinsi termiskin di Sumatera. Hal ini menjadi perhatian GMD karena jika dana Otonomi Khusus di Aceh sudah berakhir, bagaimana nasib masyarakat Aceh selanjutnya? Gerakan Mengajar Desa berusaha untuk mengatasi permasalahan ini dengan memperhatikan aspek pendidikan dan memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat.

GMD juga memperhatikan faktor nilai dalam melaksanakan programnya. Mereka menyesuaikan dengan etika di desa tersebut yang akan mempengaruhi tanggapan program selanjutnya. GMD juga selalu menghargai pendapat warga, dan jika terjadi ketidaksetujuan, mereka berusaha menanggapinya dengan cara yang baik.

Gerakan Mengajar Desa memiliki visi untuk menjadi lembaga swadaya masyarakat dan mengharapkan bantuan fasilitas dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat luas. Di samping itu, mereka juga selalu berusaha membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan dan memberikan kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat desa.

Dalam diskusi yang diadakan pada tanggal 1 Mei 2023 secara online, para peserta membahas berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program Gerakan Mengajar Desa. Namun, mereka juga menyadari bahwa Gerakan Mengajar Desa telah berhasil memberikan dampak positif bagi masyarakat desa di Jawa Barat dan berharap program ini dapat terus berlanjut dan berkembang di masa yang akan datang.

Dalam rangka meningkatkan efektivitas program, GMD perlu terus mengembangkan strategi dan inovasi dalam melaksanakan programnya. Salah satunya adalah dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam pendidikan, seperti memanfaatkan aplikasi Ruangguru, Quipper, dan Ruangguru untuk membantu anak-anak mengakses pengetahuan lebih banyak lagi.

Selain itu, GMD juga perlu terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kemampuan guru dan pendidik di desa untuk menghadapi berbagai tantangan dalam dunia pendidikan Selain itu, GMD juga berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Mereka bekerja sama dengan mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) untuk memaksimalkan potensi ekonomi di desa-desa tersebut. Salah satunya adalah dengan membantu promosi produk warga seperti payet baju. Namun, GMD juga mengalami kendala dalam melaksanakan program ini, seperti terhalang waktu untuk bekerjasama dengan PWK untuk merancang mesin yang dapat membantu proses pembuatan payet baju.

Selain itu, faktor lingkungan juga menjadi perhatian GMD. Mereka mengajak anak-anak untuk bersih-bersih lingkungan sekitar dan melakukan pemilahan sampah serta diajarkan memanfaatkan sampah sebagai bahan kreativitas seperti membuat celengan dan hiasan. Melalui program ini, GMD berharap dapat membangun kesadaran lingkungan di masyarakat desa.

Selain menghadapi tantangan dalam bidang pendidikan dan ekonomi, GMD juga menghadapi tantangan dalam bidang sosial dan politik. Mereka menghadapi sikap toleransi yang masih kurang di masyarakat desa, yang seringkali memicu diskriminasi terhadap perbedaan budaya. GMD mencoba untuk memasukkan nilai-nilai toleransi dalam kurikulum agar dapat mengurangi diskriminasi tersebut. Selain itu, GMD juga berharap dapat membangun kesadaran politik di masyarakat desa, khususnya dalam memahami program-program pemerintah dan memilih pemimpin yang tepat.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, GMD terus berusaha untuk mengembangkan program mereka. Mereka berharap dapat menjadi sebuah NGO dan mengharapkan bantuan fasilitas, serta dukungan dari berbagai pihak. GMD juga menekankan pentingnya hargai pendapat warga, dan jika ada ketidaksetujuan harus ditanggapi dengan cara yang baik. Selain itu, GMD juga memastikan bahwa tidak ada perbedaan penyikapan antara gender dalam melaksanakan program mereka.

Diskusi GMD pada 1 Mei 2023 secara online ini menunjukkan komitmen dan semangat para anggotanya dalam membantu masyarakat desa. GMD telah melakukan pengabdian di 6 desa, dan berharap dapat melakukan pengabdian di lebih banyak desa di masa depan. Melalui program-program mereka, GMD berharap dapat meningkatkan kualitas pendidikan, ekonomi, sosial, lingkungan, dan politik di masyarakat desa, serta membangun kesadaran dan semangat gotong royong di kalangan anak-anak dan warga desa.

Gerakan Mengajar Desa juga menghadapi tantangan dalam hal ekonomi, terutama di daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani atau buruh tani. Beberapa anak mungkin harus membantu orang tua mereka bekerja di ladang atau membantu di rumah untuk menghasilkan uang, yang membuat mereka kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Oleh karena itu, GMD mencoba untuk memaksimalkan potensi ekonomi di desa dengan bekerja sama dengan mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Salah satu contohnya adalah GMD membantu promosi produk warga seperti payet baju.

Selain itu, GMD juga menghadapi tantangan dalam hal lingkungan, terutama di desa-desa yang memiliki masalah sanitasi dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, GMD mengajak anak-anak untuk bersih-bersih lingkungan sekitar dan melakukan pemilahan sampah serta diajarkan memanfaatkan sampah sebagai bahan kreativitas seperti membuat celengan dan hiasan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Tantangan lain yang dihadapi oleh GMD adalah sosial dan politik. Beberapa daerah masih memiliki sikap tidak toleransi yang kurang baik terhadap perbedaan. GMD mencoba untuk memasukkan nilai-nilai toleransi dalam kurikulum agar dapat mengurangi diskriminasi terhadap perbedaan. Selain itu, GMD juga menghargai pendapat warga dan memastikan bahwa ketidaksetujuan ditanggapi dengan cara yang baik.

Dalam upayanya untuk mencapai tujuannya, GMD berencana untuk menjadi sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) dan mengharapkan bantuan fasilitas dan dukungan dari masyarakat dan pemerintah setempat. GMD juga bertujuan untuk tidak membedakan pendekatan antara laki-laki dan perempuan dalam programnya.

Diskusi mengenai Gerakan Mengajar Desa ini dilaksanakan pada 1 Mei 2023 secara online. Meskipun masih menghadapi banyak tantangan, GMD terus berusaha untuk memberikan kontribusi yang positif bagi pendidikan dan masyarakat di desa-desa di Indonesia. GMD juga menjadi contoh bagi masyarakat untuk terus memperjuangkan hak atas pendidikan dan kesetaraan dalam akses terhadap pengetahuan di seluruh Indonesia.

Dalam penutup ini, kita dapat melihat betapa pentingnya peran Gerakan Mengajar Desa (GMD) dalam meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di desa. Dengan upaya yang dilakukan oleh para pendiri dan anggota GMD, mereka telah berhasil menjangkau beberapa desa di Jawa Barat dan memberikan dampak positif bagi anak-anak di sana.

Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh GMD. Tantangan-tantangan tersebut meliputi masalah sosial, teknologi, ekonomi, lingkungan, politik, dan nilai. Oleh karena itu, kita sebagai warga Indonesia harus mendukung dan mensukseskan impian GMD agar bisa lebih eksis dan memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan.

Kita juga harus memastikan bahwa warga desa memiliki akses yang memadai terhadap perkembangan teknologi, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, perlu dibangun kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, swasta, LSM, dan warga dalam mengatasi tantangan yang dihadapi oleh GMD.

Dengan bekerja sama secara sinergis, kita dapat menciptakan GMD di tingkat kabupaten sehingga pengabdian ke desa bisa lebih mudah dilakukan. Semoga dengan upaya bersama ini, GMD bisa terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat desa di Indonesia. Mari kita bersama-sama membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera untuk generasi mendatang.

Ditulis Oleh : Nurul Islamidini (Penggerak Perubahan Indonesia dan Dunia 2050)