Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu Provinsi Kepulauan terbesar di Indonesia, hal ini dapat kita lihat dari bentangan alam serta panjang garis pantai yang dimiliki sepanjang laut yang ada di Provinsi ini. Seharusnya Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi Provinsi Wisata dengan daya tarik panorama alam lautan, hutan serta Cagar alam yang lestari hingga kini dan masa depan.

Namun semuanya itu perlu kerjasama antar banyak pihak baik masyarakat, pemerintah maupun sektor swasta namun yang paling intim adalah Keselarasan antara pembangunan Sumber daya alam yang harus setara dengan pembangunan di sektor sumber daya Manusianya juga. Hal ini dapat kita tempuh dengan memfokuskan dan meneruskan pembangunan di sektor pendidikan tak hanya di daerah potensi namun pemerataan perbaikan Infrastruktur harus massif hingga pada laman hingga daerah yang sulit dijangkau karena mau bagaimanapun ada anak-anak yang harus belajar walaupun di tempat yang akses publiknya minim sekalipun, sehingga amanat bung karno terkait mencerdaskan anak bangsa tidak kita maklumi hanya bagi mereka yang terlihat alias terjangkau secara akses Infrastruktur dan melupakan anak-anak marginal yang tinggal di pedalaman.

Seperti yang menjadi salah satu focus rekan-rekan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Kupang yang memiliki fokus di isu pendidikan. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dari Gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang kupang namun yang menjadi fokus mereka sekarang adalah pembenahan Internal organisasi dan bergerak di isu pendidikan marginal atau kurang perhatian seperti yang terjadi di beberapa sekolah di kabupaten kupang dan beberapa Taman baca yang kekurangan buku.Isu pendidikan seperti infrastruktur sekolah atau Taman baca Independen yang berada di kabupaten kuang menjadi perhatian serta fokus karena mengingat kabupaten ini secara geografis cukup dekat dari ibu kota provinsi namun sangat minim pembangunan, selain itu juga jika bicara mengenai pendidikan tentu tidak terlepas dari fasilitas penunjang seperti bangunan sekolah dan Buku bacaan. Oleh karena itu dari GMNI Kupang sedang menjalankan aksi pembagian buku di taman baca yang ada di lingkungan kabupaten kupang.

Kondisi buruknya fasilitas pendidikan menurut GMNI Kupang sendiri dikarenakan oleh beberapa Faktor yang pertama ialah: Infrastruktur utama di beberapa titik di kabupaten kupang yang masih jauh dari kata “Memadai” hal ini menurut mereka sangat berpengaruh karena semua aspek baik ekonomi atau pendidikan itu sendiri tentunya harus didukung dengan Infrastruktur penunjang agar memudahkan banyak pihak bukan saja layanan pendidikan melainkan juga masyarakat secara keseluruhan.

Kegiatan yang paling berpengaruh bagi seluruh anggota GMNI Kupang menurut kami adalah dengan sering mengadakan Diskusi ilmiah membahas hal- hal seputaran dunia pendidikan, lingkungan sosial/kampus ataupun pembangunan di Nusa Tenggara Timur. Karena dengan lebih sering berdiskusi dengan para anggota GMNI yang merupakan mahasiswa/mahasiswi dari berbagai jurusan pendidikan dengan membawa serta ide atau gagasan kreatif soal pembangunan pendidikan, sosial, ekonomi maupun politik yang dapat memajukan Nusa Tenggara Timur yang hingga hari ini di kenal dengan provinsi 3T; Termiskin, Tertinggal dan Terbelakang ini harus berubah menjadi Provinsi yang menghasilkan para intelek serta penopang Kemajuan bangsa ini dari semua sektor. Kejadian seperti fokus yang mereka ambil soal pendidikan masih ada hingga kini, sehingga masuk dalam kategori Trends karena masih belum ada perubahan yang signifikan bagi pembangunan itu sendiri dari segi pendidikan maupun Infrastruktur.

Menurut hasil diskusi rekan-rekan GMNI Kupang ada beberapa faktor yang mempengaruhi sehingga pembangunan sarana pendidikan serta infrastruktur di kabupaten kupang tidak ada perkembangan atau bisa dikatakan tidak ada pembangunan sama sekali, yang pertama adalah pemimpin yang tidak memfokuskan pembangunan di sektor Infrastruktur karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa Infrastruktur seperti jalan menjadi kunci utama sehingga dapat memajukan sektor lainnya, lalu yang kedua adalah fokus Program pemerintah provinsi belum menunjukan keberpihakan kepada pendidikan yang ada di Nusa Tenggara Timur dan yang ketiga adalah minimnya kesadaran masyarakat kabupaten terluar akan pendidikan yang mengakibatkan hampir 50% pemuda serta masyarakat desa atau kabupaten kupang hanya memiliki pendidikan akhir SMP.

Banyak kejadian sosial dan lingkungan yang cukup berpengaruh bagi GMNI Kupang yang memiliki basis di kampus dan beranggotakan Mahasiswa serta mahasiswi seperti yang pernah terjadi belajar daring melalui media massa karena Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kegiatan-kegiatan sosial dan kegiatan internal cukup terhambat. Kegiatan rutinitas seperti Diskusi juga sempat mandek karena harus distance dan belajar dari rumah dengan Zoom saja.

Pasca pandemi covid-19 organisasi ini cukup menyadari betapa pentingnya penguasaan terhadap media elektronik seperti laptop, komputer serta Headphone guna menjalankan aktivitas luar rumah seperti bekerja dan belajar, maka dari itu penting sekali untuk setiap anggota tetap melek dan peka akan laju perkembangan pendidikan dan teknologi itu sendiri agar tidak tergilas atau ketinggalan arus teknologi global.

Nilai-nilai kepemimpinan tentu penting sekali untuk setiap komunitas atauorganisasi karena menjadi landasan atau acuan berkembangnya anggota lainnya, seperti mendukung kepemimpinan perempuan serta partisipasi perempuan dalam sebuah organisasi namun yang terpenting adalah bagaimana mendukung serta menghormati setiap orang yang terpilih untuk memimpin organisasi seperti GMNI Kupang, baik perempuan atau laki- laki yang terpilih untuk memimpin sudah seharusnya menjaga eksistensi organisasi serta gerakan-gerakan yang tetap mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi lah yang harus tetap diajarkan dari masa ke masa sehingga nilai-nilai menghargai perbedaan tetap dijunjung tinggi untuk kepentingan bersama.

Di Akhir diskusi kami ada beberapa kesimpulan yang berdasarkan Undang-Undang yang kami buat guna kemajuan Pendidikan dengan Tujuan mulia yaitu Mencerdaskan anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional.

Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Harapan yang dapat penulis simpulkan dari hasil diskusi bersama rekan- rekan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia adalah secepat mungkin pembangunan Infrastruktur dilaksanakan sehingga laju perkembangan perekonomian dan Pendidikan dapat berjalan merata. Karena pembangunan sumber daya alam dan sumber daya manusia harus berjalan bersamaan. Seperti di kabupaten Kupang besar harapan mereka semua agar pemimpin yang terpilih bisa memfokuskan pembangunan pada isu-isu krusial seperti Pendidikan, Infrastruktur dan kesehatan seperti Pendampingan keluarga kurang mampu yang berdampak pada peningkatan angka Stunting. Besar harapan agar pemerintah kabupaten Kupang dapat memfokuskan pembangunan ke point-point krusial tersebut dan mendahulukan pembangunan dari pada belanja kebutuhan perkantoran yang tidak menyentuh kebutuhan pokok masyarakat pada dasarnya. Semoga …

Ditulis Oleh : Christina Beatrix Banase (Penggerak Perubahan Indonesia dan Dunia
2050)
Email : christinbanase08@gmail.com